BAB I
PENDAHULUAN
Sekolah mendapat kesempatan yang berharga melaui proses pendidikan untuk mempersipakan siswa memasuki dunia kerja. Salah satu bentuk layanan yang diberikan sekolah dalam upaya mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja adalah bimbingan karir di samping kegiatan kurikuler. I. Dewa Ketut Sukardi mengatakan: Melalui bimbingan karir siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih tepat tentang dirinya, pengenalan terhadap berbagai jenis sumber-sumber kehidupan serta penghargaan yang objektif dan sehat terhadap karir atau dengan kata lain BK membantu siswa merencanakan dan mengembangkan masa depan karir.
Untuk mengantar siswa ke gerbang masa depan (pendidikan dan pekerjaan) yang diharapkan, program bimbingan karir yang dicanangkan di sekolah merupakan wadah yang tepat. Melalui kegiatan bimbingan karir, siswa dibekali dan dilatih dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan apa, mengapa dan bagaimana merencanakan masa depan. Artinya siswa di sekolah mulai dikenalkan, dilatih, dibimbing untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bagaimana merencanakan karir sepanjang hidup (career life span)
Untuk memberikan informasi tentang layanan bimbingan karir memerlukan media yang efektif dan efisien, artinya dengan waktu yang sedikit dan singkat dapat memberikan layanan kepada banyak konseli. Media yang dipandang efektif dan efesien adalah dengan menggunakan teknologi informasi.
A. Latar Belakang
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling ada empat bidang pelayanan yang harus diberikan kepada siswa (Depdiknas, 2004) yaitu bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir. Bimbingan karir pada hakekatnya merupakan salah satu upaya pendidikan melalui pendekatan pribadi dalam membantu individu untuk mencapai kompetisi yang diperlukan dalam menghadapi masalah-masalah karir, dengan tujuan membantu siswa mengenal dan mengembangkan potensi diri melalui penguasaan pengetahuan dan ketrampilan , memahami lingkungan pendidikan dan sektor pekerjaan serta berperan dalam kehidupan bermasyarakat.
Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan jabatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang.
Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat.
Konselor pendidikan adalah konselor yang bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bimbingan karir kepada peserta didik di satuan pendidikan. Konselor pendidikan merupakan salah satu profesi yang termasuk ke dalam tenaga kependidikan seperti yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun Undang-undang tentang Guru dan Dosen.
Konselor pendidikan semula disebut sebagai Guru Bimbingan Penyuluhan (Guru BP). Seiring dengan perubahan istilah penyuluhan menjadi konseling, namanya berubah menjadi Guru Bimbingan Konseling (Guru BK). Untuk menyesuaikan kedudukannya dengan guru lain, kemudian disebut pula sebagai Guru Pembimbing
Perubahan istilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Selain itu konselor juga dituntut untuk membuat administrasi tentang kegiatan bimbingan dan data perkembangan anak.
Realitas di lapangan, menunjukkan bahwa peran konselor dalam pelaksanaan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara optimal mengingat masih terbatasnya layanan bimbingan konseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasi belajar siswa. Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan layanan juga dibebani seperangkat administrasi yang harus dikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layanan bimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namun agaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konseling juga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layanan bimbingan konseling hanya asal-asalan
(http://www.kamadeva.com/index-menu-news-newsid-tiduniapendidikan.htm)
Begitu banyaknya tugas konselor di sekolah yang harus dikerjakan dan banyaknya program yang harus disampaikan kepada siswanya, maka konselor perlu membuat terobosan baru yaitu memanfaatkan teknologi informasi yang semakin canggih untuk memberikan informasi yang diperlukan siswa. Jika konselor hanya mengandalkan waktu yang ada di sekolah dan hanya mengandalkan jenis layanan yang ada, maka program layanan bimbingan konseling tidak bisa berjalan dengan baik. Yang dimaksud layanan yang ada tersebut adalah Layanan Orientasi, Layanan Informasi, Layanan Penempatan/ penyaluran, Layanan Pembelajaran, Layanan Konseling individu, Layanan Bimbingan Kelompok, Layanan Konseling Kelompok, Layanan konsultasi, layanan Kotak masalah, layanan papan bimbingan, Layanan Konferensi kasus, dan Layanan Mediasi. Selain itu masih ada layanan pendukung seperti Aplikasi instrumentasi, Himpunan data dan Kunjungan Rumah atau home visit. (Depdiknas, 2004).
Dengan menggunakan teknologi informasi akan membantu konselor memberikan informasi dengan cepat dan dapat dibaca oleh siapa saja dan kapan saja. Begitu sebaliknya konseli mau mencari informasi sewaktu-waktu dapat dilakukan.
B. Masalah/Topik Bahasan
Berdasarkan banyaknya tugas konselor dan banyaknya program yang harus disampaikan kepada konseli, maka para Konselor mulai memanfaatkan/ menggunakan Teknologi Informasi sebagai salah satu media proses pelayanan bimbingan bidang karir.
Masalahnya:
1. Bagaimana awal munculnya Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir?
2. Apa saja macam-macam media yang dapat digunakan dalam pelayanan Bimbingan Karir?
3. Seperti apa pelayanannya?
4. Apa kelebihan Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir?
5. Apa kelemahan Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir ?
6. Bagaimana kode etik penggunaan media Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir ?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. ingin mengetahui munculnya Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir
2. ingin mengetahui macam-macam media Teknologi Informasi yang dapat digunakan dalam pelayanan Bimbingan Karir
3. ingin mengetahui bentuk pelayanan dengan media Teknologi Informasi
4. ingin mengetahui kelebihan Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir
5. ingin mengetahui kelemahan Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir
6. ingin mengetahui kode etik penggunaan media Teknologi Informasi dalam pelayanan Bimbingan Karir
D. Manfaat
7. Konselor
Manfaat yang diperoleh konselor lebih mudah memberi informasi pada konseli maupun masyarakat
8. Konseli
Manfaat bagi konseli segera mendapatkan informasi yang diperlukan khususnya informasi yang berkaitan dengan karir
E. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan dalam makalah ini yaitu metodi study literatur, karena dalam penyusunan makalah ini, sumber yang digunakan adalah buku dan inernet
Selasa, 21 Desember 2010
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM LAYANAN BK
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar